Aksara menari, membisikkan rahasia lama, menjelma kompas bagi jiwa yang kehilangan arah.
Ia adalah jendela cakrawala, tempat mata melihat dunia tanpa melangkah.
Membawaku melintasi lautan waktu, menembus benua, menyapa ribuan rasa.
Setiap lembar kertas punya aroma rindu, aroma jejak pikiran yang dibekukan waktu.
Ada tawa yang tersimpan di balik titik, ada air mata yang tersembunyi di sela koma.
Bukan hanya sekadar tumpukan kertas bertinta, ia adalah tempat berlabuh bagi para pengembara.
Sebab di dalam diamnya yang begitu tenang, menyimpan keabadian yang tak pernah padam.
Setiap kali lembarannya tersingkap perlahan, ia memanggil jiwa yang lelah di persimpangan, menawarkan tempat berteduh dari bisingnya dunia luar.
Layaknya kapal yang berlayar tanpa ombak, membawa kita melintasi lautan waktu yang tak bertepi.
Tanpa paspor, tanpa tiket, kita diajak melompat, menembus peradaban kuno hingga masa depan yang sunyi.
Di sini, kita bisa menjadi siapa saja; seorang ksatria di tengah kecamuk perang, penyair yang mengejar bayang-bayang senja, atau sekadar pemimpi yang merindukan bintang.
Ada air mata yang dikeringkan oleh baris-baris kalimat, ada keberanian yang disulut oleh ide-ide nekat.
Setiap titik adalah hembusan napas yang tertahan, setiap koma adalah jeda untuk merenungkan kehidupan.
Ia tak pernah memaksa untuk dipahami cepat-cepat, setia menunggu di sudut meja, sabar dan memikat.
Saat manusia datang dan pergi membawa kecewa, buku tetap ada, menjadi sahabat paling setia.
Sebab pada akhirnya, buku bukan sekadar benda mati, ia adalah keabadian yang dipadatkan dalam jemari.
Selama masih ada lembar yang dibaca dan dicinta, pikiran manusia tak akan pernah benar-benar sirna.
Komentar
Posting Komentar