Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Bait-bait Rasa

Selagi Kita Masih Menjadi Manusia

Hidup adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan tantangan dan kesempatan. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detiknya kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menentukan arah hidup.  Pertama, pada setiap tantangan kita diharuskan memiliki kemampuan untuk menghadapinya. Selagi kita masih menjadi manusia akan kita jumpai berbagai problema; entah itu kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hubungan interpersonal, atau hal-hal yang tak terduga lainnya. Mau tidak mau skenario semacam itu akan terjadi, oleh karenanya kita harus senantiasa bersiap. Kedua, menyambung dari yang pertama adalah pada setiap tantangan kita akan mendapatkan sebuah kesempatan; ya, kita akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Kesempatan dalam menentukan pilihan adalah situasi atau kondisi yang memungkinkan kita untuk mencapai tujuan, meningkatkan kualitas hidup, mengalami pertumbuhan pribadi, dan berhasil melewati ujian-ujian. Bisa juga sebaliknya, tergantung pada pilihan apa yang akan kita ambil...

Saduran Puisi Pak Sapardi "Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana"

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan cerita yang realistis tanpa dikte dari sinetron, buku, video-video, atau cerita di luar kita. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan cerita romantis ala kita tanpa perlu menunjukannya pada apa atau siapa, bahkan kepada dunia.

Mengawali Tahun 2025

Beberapa hari sudah berlalu di awal tahun 2025. Tak terasa bukan, begitu cepatnya waktu memakan ambisimu yang tak kunjung kamu mulai itu. Akan terus semakin cepat, waktu tidak peduli dengan rasa takut yang ada pada anganmu. Ketakutan-ketakutan, kebimbangan-kebimbangan, serta kebingungan-kebingungan yang kamu akumulasi pada tahun lalu hanya akan membuatmu berat untuk melangkah. Akankah ini yang akan terus kamu pertahankan? Berat memang; dan akan sungguh berat jalanmu di tahun ini. Tapi, kamu bukan lagi anak kecil yang menangis melihat ketakutan, kemudian berbalik lari ke pelukan ibumu. Tidak, itu sudah 20 tahun yang lalu. Kenyataannya; kamu sekarang adalah laki-laki tangguh yang ibumu hari ini pun minta perlindunganmu seperti dulu kau minta perlindungannya. Akankah kamu tega berpaling darinya?

Peringatan Darurat #Agustus2024

  Bisa juga ternyata, para pejabat kita kerja secara cepat dan responsif. Tapi kenapa pilih-pilih? Atau mungkin ini awal yang bagus, tinggal dialihkan saja dari pekerjaan yang kurang baik menjadi pekerjaan-pekerjaan yang baik? Tapi, rasanya kok.. Ah, padahal 21 tahun lagi Indonesia Emas. Jangan-jangan yang dimaksud bukan Indonesia Emas, tapi emasnya Indonesia yang ingin dimiliki oleh para elit itu. Yang saat ini mati-matian mempertahankan kekuasaan?

Teruntukmu Dihari Kelahiranmu

Malam ini begitu sesak bertumpuk sajak Kata berserak seperti daun kering yang terbawa angin Kepalaku penuh tentangmu Rembulan sedang terang meski belum purnama Angin berhembus menjadi begitu dingin Bayangmu hadir memberi kehangatan Semoga akan lama Yang lalu Setiap detik bersamamu Selalu begitu Dalam setiap penantian matahari pagi Kesunyian yang benar-benar sunyi Selalu kerinduan akan hadirmu bersamaku *Ruang sunyi; dini hari.

Humor Gus Dur Ketika di Qatar

Satu waktu, Gus Dur menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris. Ada seorang penerjemah yang membantu untuk men translate. Waktu itu Gus Dur menyelipkan humor yang panjang lebar. Hadirin tertawa terbahak-bahak. Namun Gus Dur heran, kok terjemahannya dikit? Setelah pidato, Gus Dur pun nyamperin si penerjemah. Ia menanyakan kenapa kok terjemahannya kayak gitu? Mendapat pertanyaan itu, sang penerjemah dengan santuy menjawab; "Ya, saya hanya bilang, Presiden Abdurrahman Wahid ini sedang melucu. Harap semua hadiri tertawa." Kisah ini dimuat dalam buku Ger-geran Bersama Gus Dur (Hamid Basyaib & Fajar W. Hermawan).

Selamat Atas Puncak Pertamamu

  Memang kita belum pernah naik pesawat terbang, akan tetapi kita bisa melihat keindahan yang sama. Hanya bedanya, kaki kita tetap berpijak pada bumi. Selamat atas puncaknya, selamat atas kemenangan melawan rasa lelah, selamat atas perjuangan tanpa menyerah, dan selamat atas tangismu yang tidak sia-sia. *Ungaran 2.050 MDPL

Desaku

Ada apa dengan desaku ini, Pragmatisme sudah merajalela melebihi orang-orang kota. Kenapa dengan desaku ini, Politik dinasti dijalankan seolah tidak mau kalah dengan para elit. Bagaimana dengan desaku ini, Tidak lebih asri dari apa yang seharusnya ada pada desa.

Manis

Memang, aku adalah anak muda yang termakan kata-kata manis para politisi. Tapi tak apa, aku tidak menyesalinya. Dari sana, aku ingin menjadi sepertinya. Sejadinya, aku tak ingin menjadi sepertinya.

Keluarga Mana Yang Kau Sebut?

Tidak ada musuh abadi ataupun teman sejati karena semua hanyalah adu domba semata. Aku lebih baik meninggalkan rumah, tak apa menjadi gelandangan daripada harus satu atap, satu wadah, satu lingkungan, satu organisasi, satu komunitas, atau bahkan satu himpunan yang mana orang-orang didalamnya tidak pernah peduli pada anggota keluarganya sendiri. Lihatlah, mereka yang bekerja dengan ikhlas, mewakafkan diri untuk berbakti, memenuhi tanggung jawab yang telah di amini. Bukankah mereka juga sama denganmu dan bukankah kamu juga bersama mereka, ketika ikrar setia? Tapi mengapa kamu tega meninggalkannya, membiarkannya sendiri menyusuri jalan sunyi. Padahal kamu tahu jalan itu sangat panjang dengan halang rintang yang begitu terjal, melewati hutan yang mencekam, sungai yang dalam, serta gunung-gunung yang akan terasa berat untuk didaki sendirian.

Mati di Persimpangan Jalan

Hidup adalah anugerah dari Tuhan yang tidak boleh disia-siakan Kemampuan berbicara itu istimewa maka jangan kau salah gunakan Tindakanmu mencerminkan perilaku sesungguhnya dan prinsipmu menggambarkan watak Emosi perlu dirawat biar tidak seperti rayap, kematangan berpikir itu perlu biar tidak kekanak-kanakan Jabatan adalah tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan oleh karenanya niat ikhlas harus diluruskan Pengabdian harus benar-benar nyata, mencari panggung boleh dengan tujuan kebaikan, asal tidak membunuh yang lain untuk mendapatkannya Mengayomi tidak pandang bulu; Bukannya baik pada yang putih lantas mengabaikan yang hitam Bukannya baik pada yang tinggi lantas acuh pada yang pendek Bukannya baik pada yang beruang lantas tidak peduli pada yang kurang Tegas pada siapa yang melanggar, bukan tumpul karena bagian dari golongan Kau sudah mati; Sikap netralmu kau tukar dengan satu bendera, pikiranmu rela di kerangkeng Kritikan-kritikanmu tak lagi keluar dari mulut, matamu tak lagi taj...

Asap Masih Mengepul Dari Mulutnya

Malam ini terasa lebih dingin dari biasanya, bulan bersinar lebih terang dari biasanya, bintang juga lebih banyak dari biasanya, sampai suasana pun lebih hening dari biasanya. Di depan sebuah warung kopi, duduk dua orang sahabat, ditemani rokok surya dan dua cangkir kopi. Tanpa suara, hanya kepulan asap yang keluar dari mulut mereka. Lagu dari Slank yang sedang diputar mengiringi; berjudul 'Terbunuh Sepi'. "Berat ya..?" Ucap salah satu diantara mereka memecah keheningan. "Apanya yang berat?" Tanya sahabat yang duduk di sampingnya, menanggapi. "Mengambil keputusan atas dasar beberapa pertimbangan, diantaranya mengenai manfaat juga mudharat. Semua pilihan pasti ada resiko, termasuk akan adanya pihak yang merasa dikecewakan, dan itu adalah hal yang wajar. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mau terus dipikirkan atau bergerak untuk perubahan?" Jelasnya.. "Iya, berat memang.." balas sahabatnya singkat. Mereka kembali terdiam, suasana kemba...

Teruntuk Sahabatku

Memang... Dikala yang lain dapat mengerjakan tugas dengan sempurna, kita hanya bisa mengerjakan apa adanya dengan tenaga sisa... Dikala yang lain sudah tidur sebagaimana jam normal, kita masih sibuk dengan rapat informal... Dikala yang lain bebas berlibur kemana-mana, kita hanya bisa merasakan senang akan kebahagiannya... Dikala yang lain memenangkan kompetisi perlombaan, kita hanya mampu mengucap selamat sebagai wujud kebanggaan... Dikala yang lain memiliki banyak waktu dengan keluarga, kita hanya bisa melihat fotonya sebagai pengganti bersama dengannya... Teruntuk sahabatku yang mulai lelah dalam menjaga nafas perjuangan, Teruntuk sahabatku yang terbesit pikiran tuk berhenti di tengah perjalanan, Tidakkah kita ingat waktu itu kita memilih untuk keluar dari zona nyaman? Tidakkah kita ingat dulu kita mendambakan wadah pencetak kualitas melalui tempaan? Tidakkah kita telah berkomitmen mewakafkan diri ini untuk mengabdi? Tidakkah kita menyadari bahwa cita cita kita untuk memberikan keber...

Tak Apa

Tak apa kamu lebih memilih akademik dan takut meninggalkan bangku kuliah. Tapi paling tidak dik, seminimalnya kamu adalah mahasiswa, gunakanlah satu dari tiga toleransi alpa mu untuk turut serta turun ke jalan. Turut serta berjuang bersama rakyat, kamu rasakan panasnya jalanan, membersamai mereka yang hak-hak nya dirampas oleh negara. Kamu rasakan betapa susahnya, letihnya, kerasnya perjuangan yang dilakukan oleh rakyat, kita yang harus membersamai mereka dan membantu menyuarakannya.

Seekor Angsa yang Malang

Suatu hari, di sebuah hutan belantara tinggal seekor angsa yang tidak memiliki siapa-siapa. Orang tuanya, saudara-saudaranya, dan teman-temannya telah mati karena kejadian dua bulan yang lalu. Kebakaran hutan yang sangat dahsyat akibat ulah manusia yang membuka lahan secara ilegal. Serakah memang manusia itu, tidak peduli pada alam yang di sana terdapat juga kehidupan. Saat ini, di hutan yang sangat luas, hutan yang dulunya rindang, tidak ada lagi kehidupan. Hanya tinggal sang angsa yang entah mampu bertahan sampai kapan. Menjelang malam, perut Angsa keroncongan, sudah tiga hari belum makan. Tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa karena ia hanya sendiri. Niat hati ingin mencari sungai, berharap masih ada ikan yang hidup di sana untuk dimakan. Langkah kaki terus diayunkan dengan pandangan kosong dan dengan kepala yang tidak bisa berhenti berpikir, dengan air mata yang terus mengalir, serta dengan harapan-harapan yang mulai sirna. Kurang lebih setengah jam berjalan, akhirnya sampai ...

Sudut Pandang

Terlihat dari jauh bangunan warna hijau berdiri mewah nan megah Rindang pepohonan mengelilingi Semakin dekat, semakin jelas terlihat Di depan gerbang disambut dengan bendera-bendera besar Membuat kagum MABA* yang datang masih dengan kepolosan “Kampus ternyata memang keren ya” Ungkap dalam hati, memang belum terkontaminasi Sore ramai lingkar diskusi, ruang-ruang dipenuhi “Mahasiswa memang harus berintelektual ya, setiap hari mereka diskusi” Ungkap lagi dalam hati, wajar saja Transisi dari siswa menuju maha Tongkrongan disuguhkan pengetahuan “Yang penting berani banyak bicara dulu, biar mereka terkesima” Dalam hati seorang KATING** sebenarnya. ______ *Mahasiswa baru. **Kakak tingkat.

Luput

Matahari bersinar dengan panasnya Bagai raja yang tak satupun bisa menandinginya Ia lupa, saat awan hitam datang menutup kesombongannya.. Purnama terang bercahaya Bagai ratu dari bintang-bintang Ia lupa, saat mendung tiba menghalau keanggunannya.. Pohon-pohon berdiri dengan gagahnya Seolah dapat melindungi siapa saja yang ada di bawahnya Ia lupa, bahwa angin mampu menumbangkannya.. Rumput-rumput bergoyang riang gembira Merasa yang paling bahagia Ia lupa, kerbau dan sapi akan memakannya.. Kemudian makhluk hidup bernama manusia Mengejar jabatan dengan menghalalkan segala cara Ia lupa, tidak ada yang kekal di dunia..

Prinsip

Sepetak tanah bertumbuhkan rumput liar Ia kelapa sendiri, tak sedikitpun ada rasa takut Angin mencoba menumbangkannya Ia tetap tegar pada pendiriannya Lingkungan sekitar memakai celana semua Ia tetap pada sarung identitasnya Realita mencoba mengobrak-abrik apa yang menjadi prinsipnya Ia tetep kekeh pada idealismenya Tidak saklek pada satu, tidak berdebat atas yang haq Tidak merengek minta perlindungan Tetap berani meski sendiri Dan terus ikhtiar di tengah banyaknya penghianatan

Sebuah Kepastian

Matahari terbit dari timur itu pasti Tapi tidak dengan burung yang bertengger di atas pohon setiap pagi Setiap yang bernyawa akan mati itu pasti Tapi tidak dengan hujan meski mendung gelap gulita Semesta tidak pernah salah memberikan kepastiannya Yang salah pasti dihukum, yang benar dapat ganjaran Saat ini kamu menindas, suatu saat pasti ada yang membalas Semesta saling berkaitan, kawan.. Sudah pernahkah kau renungkan? Hari ini adalah buah dari perlakuanmu di masa lalu Dan perlakuanmu hari ini akan berbuah di masa yang akan datang

Satu Kereta, Beda Gerbong

Stasiun Tawang adalah titik pemberangkatan yang sudah kita sepakati. Kamu bilang terserah mau naik gerbong yang mana, toh tujuannya sama. Kita mengambil gerbong yang berbeda akhirnya. Lima belas menit menunggu kereta bergerak meninggalkan pemberhentian. Sesampainya di stasiun kota tujuan kita pun sama-sama turun, mampir di warung kopi untuk sejenak melepas penat; kita berbagi cerita di perjalanan. Aku; merasa puas dengan perjalananku, merasa nyaman bertemu dengan orang-orang baru yang menyenangkan. Bercengkerama asyik dan saling tukar pengalaman. Mendapatkan pengetahuan baru, kawan baru, serta pengalaman baru menjadikan perjalananku tak terasa lama. Sedangkan, Kamu; bisa aku tebak adalah sebaliknya. Benar saja, kau terlihat kusut dan emosi karena dalam perjalanan kau bertemu dengan emak-emak yang sering marah-marah, anak kecil yang terus menangis, lelaki besar yang keringatnya tidak sedap, dan tidak ada yang mengajakmu berbicara. Kau merasa sangat jenuh, bosan, dan kecewa akan perjal...