Bukan Minat Baca yang Rendah, Tapi Ekosistem Literasi yang Harus Dibenahi
Sering banget nggak sih kita dengar kalimat klise yang bunyinya begini; "Duh, minat baca orang Indonesia itu rendah banget!" Kalimat itu kayak udah jadi kaset rusak yang diputar ulang terus-terusan setiap kali ada diskusi soal literasi. Rasanya kok ya gampang banget menuding kalau masyarakat kita memang malas membaca.
Tapi, coba deh kita lepas sebentar kacamata menghakimi itu, lalu duduk bareng sambil ngopi dan mikir pakai kepala dingin. Apakah benar kita ini malas, atau sebenarnya kita sedang berhadapan dengan tembok tebal bernama akses dan isi dompet?
Kalau kita jujur melihat realitas di lapangan, tuduhan "minat baca rendah" itu sebenarnya salah alamat. Coba bayangkan skenario sederhana ini. Kamu pengen banget baca buku best-seller terbaru yang lagi berseliweran di linimasa. Kamu pergi ke toko buku, lalu lihat harganya tertera di sampul belakang Rp 125.000. Buat sebagian orang, angka itu mungkin cuma secangkir kopi atau camilan sore. Tapi buat jutaan keluarga di luar sana yang harus memutar otak untuk menutup kebutuhan dapur, cicilan, dan biaya sekolah anak setiap bulan, uang seratus ribuan lebih itu adalah keputusan besar. Membeli buku original akhirnya jadi sebuah kemewahan, bukan lagi kebutuhan pokok. Jadi, bukan karena mereka nggak mau beli, tapi prioritas hidup memaksa mereka untuk mengurungkan niat.
Belum lagi kalau ngomongin soal akses geografis. Bayangkan kalau kamu tinggal di kabupaten yang jauh dari kota besar. Mau ke toko buku lengkap? Harus siap keluar ongkos transportasi yang kadang malah lebih mahal dari harga bukunya. Mau beli online? Ongkirnya bikin elus dada. Mau lari ke perpustakaan umum? Sering kali koleksinya mandek di tahun-tahun lama, atau jam bukunya bentrok banget sama jam kerja. Kalau dari awal jalannya sudah terjal dan melelahkan, wajar kalau semangat membaca itu perlahan-lahan padam di tengah jalan.
Ironisnya, kalau minat baca kita dibilang rendah, kok ya nggak nyambung sama apa yang terjadi di media sosial? Coba lihat komunitas BookTok di TikTok atau Bookstagram di Instagram. Jutaan anak muda betah berjam-jam membahas ulasan buku, berbagi rekomendasi, sampai bikin reading challenge. Coba juga datangi pameran buku besar seperti Big Bad Wolf atau bazar-bazar buku independen. Tempatnya selalu tumpah ruah, antreannya mengular panjang sampai bikin kaki pegal.
Dari situ saja sudah kelihatan kan? Niat, gairah, dan rasa penasaran itu sebenarnya ada, dan besar banget. Masalah utamanya bukan di kemauan pembacanya yang tipis, melainkan ekosistem literasi kita yang memang masih menyimpan banyak PR besar. Distribusi yang belum merata dan harga buku yang kurang ramah kantong mayoritas masyarakat adalah musuh utamanya.
Untungnya, di era digital sekarang, kita punya banyak cara kreatif untuk tetap waras dan merawat hobi membaca tanpa harus bikin dompet menangis. Aplikasi perpustakaan digital gratis seperti iPusnas, pasar buku bekas online yang menawarkan harga miring, sampai gerakan tukar buku antar teman jadi pelita-pelita kecil di tengah mahalnya akses literasi.
Jadi, mulai sekarang, yuk berhenti menyalahkan pembaca seolah-olah mereka tidak mau tahu. Karena nyatanya, orang Indonesia bukan tidak suka membaca mereka hanya sedang berjuang melawan mahalnya harga dan sulitnya akses untuk bisa membaca.

Komentar
Posting Komentar