Langsung ke konten utama

Mati di Persimpangan Jalan

Hidup adalah anugerah dari Tuhan yang tidak boleh disia-siakan

Kemampuan berbicara itu istimewa maka jangan kau salah gunakan

Tindakanmu mencerminkan perilaku sesungguhnya dan prinsipmu menggambarkan watak

Emosi perlu dirawat biar tidak seperti rayap, kematangan berpikir itu perlu biar tidak kekanak-kanakan

Jabatan adalah tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan oleh karenanya niat ikhlas harus diluruskan

Pengabdian harus benar-benar nyata, mencari panggung boleh dengan tujuan kebaikan, asal tidak membunuh yang lain untuk mendapatkannya

Mengayomi tidak pandang bulu;

Bukannya baik pada yang putih lantas mengabaikan yang hitam

Bukannya baik pada yang tinggi lantas acuh pada yang pendek

Bukannya baik pada yang beruang lantas tidak peduli pada yang kurang

Tegas pada siapa yang melanggar, bukan tumpul karena bagian dari golongan

Kau sudah mati;

Sikap netralmu kau tukar dengan satu bendera, pikiranmu rela di kerangkeng

Kritikan-kritikanmu tak lagi keluar dari mulut, matamu tak lagi tajam melihat penindasan

Langkahmu terhenti oleh kertas dan tinta hitam, kepedulianmu menghilang, kawan kau anggap sebagai lawan

Orang-orang kelaparan, anak-anak putus sekolah, kau pun tak lagi menghiraukan

Kasih sayangmu berubah menjadi bisnis, merangkul yang memberi untung

Bicaramu selalu tentang politis, rela menikam yang menjadi penghalang

Kau telah mati sejak saat memilih perubahanmu

Kau benar-benar mati di persimpangan jalan waktu itu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saduran Puisi Pak Sapardi "Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana"

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan cerita yang realistis tanpa dikte dari sinetron, buku, video-video, atau cerita di luar kita. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan cerita romantis ala kita tanpa perlu menunjukannya pada apa atau siapa, bahkan kepada dunia.

Mengawali Tahun 2025

Beberapa hari sudah berlalu di awal tahun 2025. Tak terasa bukan, begitu cepatnya waktu memakan ambisimu yang tak kunjung kamu mulai itu. Akan terus semakin cepat, waktu tidak peduli dengan rasa takut yang ada pada anganmu. Ketakutan-ketakutan, kebimbangan-kebimbangan, serta kebingungan-kebingungan yang kamu akumulasi pada tahun lalu hanya akan membuatmu berat untuk melangkah. Akankah ini yang akan terus kamu pertahankan? Berat memang; dan akan sungguh berat jalanmu di tahun ini. Tapi, kamu bukan lagi anak kecil yang menangis melihat ketakutan, kemudian berbalik lari ke pelukan ibumu. Tidak, itu sudah 20 tahun yang lalu. Kenyataannya; kamu sekarang adalah laki-laki tangguh yang ibumu hari ini pun minta perlindunganmu seperti dulu kau minta perlindungannya. Akankah kamu tega berpaling darinya?

Selagi Kita Masih Menjadi Manusia

Hidup adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan tantangan dan kesempatan. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detiknya kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menentukan arah hidup.  Pertama, pada setiap tantangan kita diharuskan memiliki kemampuan untuk menghadapinya. Selagi kita masih menjadi manusia akan kita jumpai berbagai problema; entah itu kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hubungan interpersonal, atau hal-hal yang tak terduga lainnya. Mau tidak mau skenario semacam itu akan terjadi, oleh karenanya kita harus senantiasa bersiap. Kedua, menyambung dari yang pertama adalah pada setiap tantangan kita akan mendapatkan sebuah kesempatan; ya, kita akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Kesempatan dalam menentukan pilihan adalah situasi atau kondisi yang memungkinkan kita untuk mencapai tujuan, meningkatkan kualitas hidup, mengalami pertumbuhan pribadi, dan berhasil melewati ujian-ujian. Bisa juga sebaliknya, tergantung pada pilihan apa yang akan kita ambil...