Langsung ke konten utama

Satu Kereta, Beda Gerbong

Stasiun Tawang adalah titik pemberangkatan yang sudah kita sepakati. Kamu bilang terserah mau naik gerbong yang mana, toh tujuannya sama. Kita mengambil gerbong yang berbeda akhirnya. Lima belas menit menunggu kereta bergerak meninggalkan pemberhentian.

Sesampainya di stasiun kota tujuan kita pun sama-sama turun, mampir di warung kopi untuk sejenak melepas penat; kita berbagi cerita di perjalanan.

Aku; merasa puas dengan perjalananku, merasa nyaman bertemu dengan orang-orang baru yang menyenangkan. Bercengkerama asyik dan saling tukar pengalaman. Mendapatkan pengetahuan baru, kawan baru, serta pengalaman baru menjadikan perjalananku tak terasa lama.

Sedangkan,

Kamu; bisa aku tebak adalah sebaliknya. Benar saja, kau terlihat kusut dan emosi karena dalam perjalanan kau bertemu dengan emak-emak yang sering marah-marah, anak kecil yang terus menangis, lelaki besar yang keringatnya tidak sedap, dan tidak ada yang mengajakmu berbicara. Kau merasa sangat jenuh, bosan, dan kecewa akan perjalananmu.

Tapi itu tidak mengapa karena inilah proses pembelajaran dari sebuah perjalanan.

Pada hakekatnya, kita berada di kereta yang sama, jalur yang sama, dan tujuan yang sama. Hanya saja, apa yang kita dapatkan berbeda, maka pilihlah pilihanmu dengan sebaik-baiknya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saduran Puisi Pak Sapardi "Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana"

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan cerita yang realistis tanpa dikte dari sinetron, buku, video-video, atau cerita di luar kita. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan cerita romantis ala kita tanpa perlu menunjukannya pada apa atau siapa, bahkan kepada dunia.

Mengawali Tahun 2025

Beberapa hari sudah berlalu di awal tahun 2025. Tak terasa bukan, begitu cepatnya waktu memakan ambisimu yang tak kunjung kamu mulai itu. Akan terus semakin cepat, waktu tidak peduli dengan rasa takut yang ada pada anganmu. Ketakutan-ketakutan, kebimbangan-kebimbangan, serta kebingungan-kebingungan yang kamu akumulasi pada tahun lalu hanya akan membuatmu berat untuk melangkah. Akankah ini yang akan terus kamu pertahankan? Berat memang; dan akan sungguh berat jalanmu di tahun ini. Tapi, kamu bukan lagi anak kecil yang menangis melihat ketakutan, kemudian berbalik lari ke pelukan ibumu. Tidak, itu sudah 20 tahun yang lalu. Kenyataannya; kamu sekarang adalah laki-laki tangguh yang ibumu hari ini pun minta perlindunganmu seperti dulu kau minta perlindungannya. Akankah kamu tega berpaling darinya?

Selagi Kita Masih Menjadi Manusia

Hidup adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan tantangan dan kesempatan. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detiknya kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menentukan arah hidup.  Pertama, pada setiap tantangan kita diharuskan memiliki kemampuan untuk menghadapinya. Selagi kita masih menjadi manusia akan kita jumpai berbagai problema; entah itu kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hubungan interpersonal, atau hal-hal yang tak terduga lainnya. Mau tidak mau skenario semacam itu akan terjadi, oleh karenanya kita harus senantiasa bersiap. Kedua, menyambung dari yang pertama adalah pada setiap tantangan kita akan mendapatkan sebuah kesempatan; ya, kita akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Kesempatan dalam menentukan pilihan adalah situasi atau kondisi yang memungkinkan kita untuk mencapai tujuan, meningkatkan kualitas hidup, mengalami pertumbuhan pribadi, dan berhasil melewati ujian-ujian. Bisa juga sebaliknya, tergantung pada pilihan apa yang akan kita ambil...